Surga. siapa yang tak mau hendak ke sana? dilokalisasi di sana dengan segala servis paling memuaskan. Siapa yang tak mau?
Saya mau. semua mau. tak terkecuali perempuan jalang dan lelaki hidung belang.
Tapi siapa yang bisa ke sana? semuanya diam.
Mengapa sepagi ini saya sudah berujar tentang surga? apa untungnya bagi saya?
berbicara surga berarti bicara hidup yang berarti dan mati yang syahid.
sesederhana itu terdengarnya. tapi menjalaninya tak pernah mudah.
Belajar, bekerja, berkarya, semua bisa menjadi salah satu anak tangga menuju surga.
Yang artinya belajar hidup dengan memiliki arti. Bukan sekadar menggadang-gadang surga tapi keseharian penuh dengan kesia-siaan.
Saya mau bekerja, belajar dan berkarya sebagaimana seorang calon syahidah. Meniatkannya semata karena Tuhan yang moga-moga diterima dan diberi banyak keberkahan. Urusan itu dicatat sebagai amal baik apa buruk, itu bukan urusan saya sama sekali. Yang terpenting saya sudah meniatkan dan melakukan. Lagipula saya percaya, tuhan punya kalkulator paling canggih dan maha akurat. Sedangkan saya, berhitung ratusan saja belum tentu di luar kepala.
Maka siapa saja yang merindukan surga, ketahuilah bahwa langkahmu dimulai dari hari ini, dari titik ini. Dan tak ada satupun yang tahu kapan langkah ini akan terhenti. Sebab Dialah sang pemutus, yang memutuskan mana langkah hamba yang akan ia perhitungkan sebagai modal membuka kunci surga. Dialah sang penentu, yang menentukan kapan langkah kita cukup ataukah kurang ataukah terhenti begitu saja.
Aku ingin hidup berarti lalu mati syahid. Itu saja. Bolehkah?